Dongeng Pendek: Setabah Dan Seharum Kenanga
SUDAH dua puluh enam lelaki tiba melamarnya: tujuh cowok ganteng, tujuh pedagang ganja, lima cowok kaya, empat lelaki beristri setengah baya, seorang duda beranak tiga, seorang cowok pengangguran keras kepala, dan seorang pedagang kaya beristri dua, semua ditolaknya. Kepada sejumlah lelaki yang berhasil mencegatnya di jalan, yang sengaja menunggunya seolah suatu kebetulan belaka, dengan lembut Nurmala memberikan bahwa hingga kini ia belum berkeinginan untuk berkeluarga.
Nurmala tumbuh sebagai kenanga yang ranum dan harum, berkulit kuning langsat (sedikit gelap memang karena sering terbakar matahari), berambut lurus panjang (yang senantiasa tertutup kerudung sekadarnya bila sedang berada di luar rumah, sebagaimana gadis di kampung umumnya), berwajah lonjong dengan tonjolan lembut di dagunya. Bentuk wajahnya amat selaras, luhur, dan begitu sepadan dengan tubuhnya yang tinggi semampai.
Bila Nurmala berada di antara gadis-gadis dan perempuan dalam sebuah kerumunan, dialah yang tampak paling menonjol, seburuk dan selusuh apa pun pakaian yang dikenakan. Tidak saja laki-laki, sesama perempuan sekalipun banyak yang tidak sanggup mengalihkan perhatian darinya, dan kebanyakan dari mereka memandangnya rendah dengan roman tak suka secara berlebihan.
Siapa pun lelaki yang memandangnya akan segera bergetar. Tidak saja pintar balig cukup akal tanggung, cowok berumur, bahkan lelaki renta beristri sekalipun begitu berdebar-debar jantungnya. Pesona yang dipancarkannya begitu luar biasa, hingga termasyhur ke kampung-kampung tetangga, dan makin banyak saja orang yang tiba entah dari mana-mana, melintasi jalan depan rumahnya, berpura-pura membeli sesuatu di kedai kecil yang tidak jauh dari rumah Nurmala.
Begitu jalan setapak di samping rumah yang menuju ke sawah, tanpa disadari Nurmala, banyak lelaki yang hilir-mudik. Badan jalan yang sempit itu menjadi padat dan licin karena terlalu sering terinjak renta muda yang berpura-pura menilik flora, sekalipun sawahnya tidak terletak di sekitar situ. Rumput-rumput yang tumbuh di sana tidak sempat bangkit, terus-menerus merana terinjak-injak tapak kaki para lelaki yang hatinya sedang kasmaran. Bahkan, lelaki uzur sekalipun, bila melihat wajah Nurmala, lupa bahwa dirinya sudah renta.
Selain mengurusi rumah dan mencuci pakaian, Nurmala kerap pula membantu orang tuanya turun ke sawah, mulai dari awal musim tanam, dikala menyiangi, sampai tibanya ekspresi dominan panen. Dia menyerupai lupa bahwa dirinya begitu jelita dan punya daya tarik luar biasa. Dia tidak pernah menyadari banyak lelaki berkeliaran di dekatnya, melintasi pematang dikala ia sedang di sawah, seolah-olah itu hanyalah insiden alami lantaran isu terkini tanam yang serentak.
Cemberutnya saja begitu indah. Senyumnya yang menggetarkan dada itu telah menciptakan banyak lelaki tidak mampu tidur, terus dirundung gelisah, dimabuk-kepayang siang dan malam. Pemuda-pemuda yang kehilangan kata-kata untuk melukiskan bagaimana kecantikannya, menjelaskan dengan cara yang ajaib, “Saat mengejan hajat pun, seringainya begitu bagus!”
“Aku ingin sekali melamarnya!”
“Jangan harap. Memang apa yang kau punya? Tampangmu saja pas-pasan, pengangguran lagi!”
Usia Nurmala kini sudah dua puluh tahun. Selazimnya gadis seumur dia di Mulieng sudah menikah, bahkan ada yang sudah punya tiga anak. Bila seusia itu belum juga bersuami, orang tuanya mulai gelisah, takut anak perempuannya menjadi perawan renta yang tidak laku lagi. Secantik apa pun dia, bila hingga renta tidak punya lelaki, hal itu menjadi malu keluarga yang dengan sendirinya kuat pada nama baik kampung. Namun, Nurmala tetap tidak peduli, menyerupai tidak terlalu penting perkawinan itu baginya.
Hampir tiap pagi ia turun membawa sekeranjang pakaian kotor, mencucinya bersama perempuan-perempuan lain di sungai. Sebagian besar gadis-gadis tidak terlalu peduli, bahkan perempuan-wanita yang telah bersuami pun menaruh cemburu dan iri padanya. Hampir semua suami mereka suka meliriknya dengan tatapan nafsu. Itulah sebabnya, Nurmala tidak begitu diterima dalam pergaulan, dan kehadirannya selalu mengundang cemoohan dan gunjingan. Namun, Nurmala tidak pernah ambil hati terhadap perilaku dan sikap buruk orang-orang terhadapnya.
“Hidup ini gila,” begitu gumamnya melapangkan dada.
Suatu hari, Tanjir, seorang cowok kampung tetangga tiba-tiba kembali dari kota, muncul dengan mengendarai sedan keluaran terbaru. Tanjir dan kedua orang tuanya yang berpenampilan menyerupai gaya keluarga pejabat kota itu tiba melamar Nurmala. Karena terlalu percaya bahwa gadis itu tidak bakal sanggup menolaknya, Tanjir tidak pernah memberitahukan lebih dulu maksudnya, mirip kedatangannya yang mendadak itu untuk memperlihatkan suatu kejutan berkah penuh kebahagiaan kepada Nurmala.
Tak ada yang kurang pada Tanjir: dia mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dua puluh enam orang yang sebelumnya telah melamar Nurmala. Bahkan, dia lebih rupawan dan lebih kaya dibandingkan mereka yang pernah melamar gadis itu. Tanjir juga punya kekuasaan besar sehabis bergabung dengan Partai Merah yang dibentuk mantan pemberontak usai perang Aceh, dan berkali-kali partai lokal itu memenangkan pemilu.
Lima tahun kemudian, Tanjir bukanlah siapa-siapa, hanya seorang cowok bandit yang merantau ke kota, membawa sebuntal baju dan celana kumal, sedangkan sejumlah kancut koyak semua di pecahan pantat. Namun, kini ia mendadak kaya raya, punya kekuasaan lagi. Tidak seorang pun tahu bagaimana nasib mampu begitu cepat mengubahnya. Dari desas-desus yang beredar, kekayaan Tanjir itu sering dikait-kaitkan dengan kiprahnya dalam perdagangan ganja dan sabu yang memang sedang marak-maraknya sekarang.
Bagi Tanjir, di dunia ini, uanglah yang paling berkuasa. Maka, Partai Merah yang beranggotakan orang-orang putus sekolah yang keras kepala, dengan senang hati menerimanya sebagai orang penting, mengusungnya sebagai calon anggota dewan pada pemilu mendatang. Jika saja Nurmala mendapatkan lamaran Tanjir, kemungkinan besar kelak ia akan menjadi istri anggota dewan terpandang yang kakinya tidak boleh menyentuh tanah, apalagi lumpur sawah, dan ia tidak perlu lagi turun ke sungai mencuci pakaian.
Nurmala melihat sendiri sosok Tanjir yang bagaikan cowok idaman banyak gadis. Tetapi, sehabis memberikannya kesempatan berpikir, Nurmala pun menolak lamaran cowok itu. Tanjir yang sejak awal begitu sesumbar, yakin pinangannya tak bakalan ditolak, begitu kecewa dan sakit hati. Dia menanggalkan jas dan celana mahalnya, mengenakan celana jins, kaus oblong, dan sandal kulit, kemudian pergi ke kedai kecil Kampung Mulieng dengan menumpang sebuah kereta motor bau tanah. Di kedai itu, membisu-diam dia menunggu Nurmala. Tetapi, hingga petang hari gadis itu tak kunjung keluar rumah.
Keesokan harinya Tanjir melaksanakan hal serupa, dan sehabis hampir frustasi menunggu hingga petang, tiba-tiba gadis itu muncul, melangkah anggun di jalan berbatu laksana putri malu, elok parasnya tiada bandingan. Tanjir yang tak sanggup menahan diri, segera memburu, mencegatnya di jalan erat kedai situ. Pemuda itu pribadi menanyakan alasan penolakan lamarannya. Tanpa berubah pendirian, gadis itu memperlihatkan alasan serupa bahwa sampai dikala ini beliau belum berkeinginan untuk menikah.
“Kenapa?” tanya Tanjir gelisah, dengan raut wajah pucat. “Bukankah kini usiamu sudah dua puluh?”
Nurmala tersipu, menundukkan kepala hingga belum dewasa rambut lurusnya menutupi wajah. Dia terlihat bagus alami di sore muram itu.
“Tidak apa-apa,” jawab Nurmala menghindar, berlalu tanpa menunjukkan keterangan lanjut.
Tanjir makin bingung tidak menentu. Berbagai perasaan berkecamuk dalam dirinya, antara gundah, sakit hati, dan tak berdaya. Namun, beliau sudah kepalang basah dan pantang mengalah. Tiba-tiba saja wajahnya berubah padam, kembali mengejar gadis itu, dan mencegatnya.
“Sekarang katakan, lelaki bagaimana pula yang kauidamkan?” sembur Tanjir kesal.
Mendadak langkah Nurmala terhenti, tubuhnya kaku, wajahnya tegang. Dia tertekan, terancam, dan kesulitan menjawab.
“Siapa pun lelaki tidak persoalan bagiku,” ucapnya penuh keberanian. “Tapi, perlu kau tahu, saya bukanlah gadis yang simpel tertarik pada kekayaan….”
“Sok suci!” sembur cowok itu, dan meludah.
Wajah Nurmala padam, tidak berusaha menanggapi. Dia menggeserkan badan ke sisi kanan, melanjutkan langkahnya. “Maaf, saya terburu-buru….”
“Dengar!” seru Tanjir mulai berang. “Kau akan menyesal. Kau akan menyesal seumur hidupmu!”
Tanjir kembali meludah-ludah lagi, melindas-lindas rumput dengan ujung sandal karetnya. Wajahnya tegang, geram, berlaksa dendam merasuki dirinya. Dia mengepal-ngepalkan tinju dengan menggigit geraham.
Hari-hari selanjutnya tidaklah terjadi apa-apa. Tidak ada seorang lelaki pun yang tiba melamar Nurmala, selain hanya beberapa orang saja yang belum juga bosan melintasi jalan depan rumahnya dan jalan setapak di samping rumah yang menuju ke sawah, sambil melirik-lirik ke rumah gadis itu.
Suatu malam, dikala Nurmala berjalan kaki dari rumah kerabat ibunya yang berjarak satu watu, dua sosok lelaki menyergapnya dalam kegelapan di lintasan jalan utama yang diapit lahan perkebunan sawit di pinggiran semak-semak belukar pinggiran sungai tempat biasa ia mencuci pakaian.
Di tempat itu tidak ada penerangan listrik dan jauh dari permukiman penduduk sehingga begitu mudah bagi dua pelaku itu meringkusnya ke semak-semak dengan lebih dulu menyumpal mulutnya. Di semak-semak itu, dengan tangan terikat, dia diperkosa dua lelaki, dan setelahnya ditinggalkan begitu saja.
Nurmala berhasil melepaskan dirinya sejam kemudian, keluar dari semak-semak dengan langkah terhuyung-huyung. Ketika tiba di jalan yang disinari cahaya samar listrik dari sebuah rumah, wajahnya terlihat pucat pasi dan rambutnya kusut masai.
Beberapa lelaki yang sempat memperhatikannya, agak penasaran dan terheran, tetapi kemudian tidak terlalu peduli karena Nurmala terus melangkah tergesa-gesa tanpa menolehkan wajah. Beberapa perempuan malah tidak ingin melihatnya, memalingkan wajah ke arah berlawanan, lantas cepat-cepat mendahuluinya.
Karena selangkangnya nyeri, Nurmala sempat berhenti, berlindung di kegelapan, menyandarkan tubuh lunglainya di batang randu di pinggir jalan. Setelah cukup berpengaruh, ia kembali melangkah, melewati kedai kecil yang sepi, lantas menelusuri jalan menikung yang gelap, tidak jauh dari rumah renta tak berpenghuni.
Namun, entah bagaimana, tiba-tiba saja seseorang, menyerupai seorang perempuan, menyiramkan suatu cairan ke wajahnya yang membuatnya panik, menjerit-jerit kengerian. Cairan itu membuat kulit mukanya meleleh. Si pelaku langsung lenyap menghilang dalam kegelapan.
Terjadilah keriuhan luar biasa, orang-orang mengerumuni Nurmala yang sedang panik meronta-rontak kengerian, tetapi tidak seorang pun yang mengerti, apalagi berusaha menolongnya. Dengan cahaya senter yang diarahkan seseorang, terlihatlah kulit wajah bagus Nurmala mengelupas serupa habis terbakar. Nurmala terus meronta-ronta, tampak mirip perempuan sihir yang berubah gila.
Sebegitu parah sudah penderitaan yang menimpa Nurmala, tetapi tidak habis-habisnya gunjingan dan cemoohan menyerang. Justru kian hebat saat orang-orang mengetahui perut Nurmala makin membuncit. Sebagian orang puas melihat raut wajah gadis itu yang rusak parah oleh siraman air keras yang dianggap sebagai hukuman.
Luka bakar seruas jari itu begitu kentara di kening kirinya, sempurna di atas alis, menjalar ke pelipis, hingga ke pipi kirinya yang sebesar dua ruas jari, sedikit di pecahan hidung, dan sisanya sebesar uang logam kecil di pipi kanan. Untung tidak mengenai matanya. Rasanya sulit percaya bahwa wajah yang seburuk itu dulunya pernah begitu elok.
Nurmala dituduh telah berzina, orang-orang menghujatinya sebagai perempuan rendah, pelacur hina yang telah mencoreng kesucian kampung mereka. Sejumlah perempuan jadi begitu curiga pada suami masing-masing; jangan-jangan suaminya yang telah bersetubuh dengan gadis itu. Rasa benci pada Nurmala pun kian bertambah-tambah. Namun, Nurmala membisu saja ditimpa cobaan yang begitu berat. Ketika tak sanggup menahan sesak, dia mendekapkan tangan ke dada seraya berujar, “Hidup ini memang aneh….”
“Seharusnya dulu kau tak menolak terlalu banyak lelaki yang meminangmu sehingga kau tak sampai begini rusak,” ucap ayahnya setengah putus asa.
“Ayah dan Ibulah yang mendidikku hidup sederhana, semoga tidak memandang dunia secara berlebihan. Ayah selalu mengingatkanku, ‘Sebagai keluarga petani, kita juga harus menjaga harga diri, jangan sampai dilecehkan, apalagi diinjak-injak orang. Pilihlah suami yang betul-betul mencintaimu, yang tidak sekadar nafsu, apalagi hanya tertarik pada raut paras yang elok,’” kata Nurmala, menanggapi.
“Mala,” kata ayahnya, “tidak semua lelaki itu sempurna, ibarat harapanmu.”
“Ayah,” Nurmala melirik ayahnya, “saya tidak menyesal jadi begini. Aku tidak pernah menyesal menolak pinangan mereka. Aku tahu, tidak seorang pun di antara mereka yang benar-benar ikhlas mencintaiku. Semua kebijaksanaan-akalan, cuma nafsu….”
“Lalu, bagaimana dengan kandunganmu, Nak?” tanya ibunya.
“Dia manusia, telah bernyawa, dan ia darah dagingku sendiri, Bu. Aku tetap tidak ingin membunuhnya. Memang ia tak akan mengenal siapa ayahnya, tapi dia akan tahu jikalau saya ini ibunya.”
Karena kebencian terus menyeruak, balasannya dengan keteguhan hati, tanpa pernah menaruh benci dan dendam pada siapa pun, Nurmala pergi meninggalkan kampung halamannya. Di bilik sebuah rumah renta di pinggir Kota Lamlhok, melalui dukungan seorang bidan, ia melahirkan seorang bayi pria sehat tanpa cacat. Nurmala tersenyum senang begitu melihat bayi merah yang sedang meronta-ronta pelan dan menjerit-jerit keras itu.
Sekarang ia jadi ibu, sekalipun tanpa suami. Kaprikornus ibu yang baik, walaupun wajahnya tak lagi elok. Dia berusaha menabahkan hatinya, setabah kenanga yang selalu anggun menunduk, tak simpel goyah oleh empasan angin, tak tercabik oleh terjangan badai, dan tak mudah layu meskipun terlepas dari tangkai, sementara harumnya menebar ke mana-mana.
Nurmala tersenyum-senyum sendiri; senyuman seorang ibu yang sulit dimengerti, seraya membayangkan sebuah kehidupan gres yang jauh berbeda daripada yang telah ia lalui. (f)
***
Baca Cerita Menarik Lainnya

0 Response to "Dongeng Pendek: Setabah Dan Seharum Kenanga"
Post a Comment