Dilema Meninggalkan Mertua Hidup Di Rumah Sendirian
Selalu ada drama dikala hendak meninggalkan rumah mertuauntuk hidup berdikari. Apalagi kalau mertua jadi hidup sendirian sehabis kepergian Anda dan suami. Itulah yang dialami Betha, ibu satu anak asal Malang. Simak kisahnya.
—
Sudah hampir sebulan saya dan suami meninggalkan rumah mertua. Keputusan itu dapat dibilang sangat berat, terutama untuk suamiku.
Dia yakni satu-satunya anak di keluarganya yang tidak pernah usang meninggalkan rumah, tidak pernah merantau. Suami punya dua kakak wanita, tapi semua tinggal di luar kota.
Sebelum menikah, ibu mertua dan suamiku hanya tinggal berdua. Mertuaku bercerai sekitar 10 tahun lalu. Sejak dikala itu, suamiku selalu setia menemani ibunya, tidak pernah menggubris usulan kerja di luar kota. Benar-benar anak andalan.
Tapi situasi itu jadi tak mudah buatku. Aku semenjak dulu punya prinsip untuk hidup berdikari sesudah menikah. Ogah serumah dengan mertua maupun orang renta sendiri. Sebab semakin banyak kepala di dalam rumah, niscaya makin sering terjadi konflik.
Butuh dua tahun untuk meluluhkan hati suamiku biar mau pindah dari rumah ibunya. Argumenku? Tak perlu ditanya.
“Kalau kita tinggal di sini terus, kita nggak akan berkembang. Aku mau apa-apa nggak lezat sama ibu kamu,”
“Pernah nggak kau mikirin stok beras, telur, minyak, sama kebutuhan lain? Pasti nggak. Soalnya dari dulu yang ngurus Ibu, kau tinggal kasih duit. Kita nggak akan mampu berdikari kalau gini,”
“Setiap kali saya masak di dapur, ibu kamu selalu ngawasin. Nggak nyaman banget. Coba saya punya dapur sendiri,”
Dan banyak argumen lainnya. Karena kami sering tubruk verbal, kesannya suamiku mengalah. Kami mencari kontrakan yang tidak begitu jauh dari rumah mertua.
Proses pindahan kami berjalan lancar. Mertua juga mengizinkan. Sepertinya ia sudah mengantisipasi skenario ini jauh-jauh hari. Mungkin ia berpikir rasanya mustahil kami mau tinggal di rumahnya selamanya.
Sampai suatu malam, suami mengajakku mampir ke rumah ibunya alasannya ada barang yang tertinggal. Saat itu sudah pukul 10 malam, biasanya mertua sudah tidur. Tapi tak dilema sebab suami membawa kunci sendiri.
Aku menetapkan menunggu di kendaraan beroda empat. Tidak akan lama, pikirku. Sekitar 15 menit kemudian, ia kembali dengan raut wajah murung.
“Ibu ternyata masih bangun. Tadi saya dengar ibu ngobrol sama kucing di kamarnya. Kasihan nggak ada temen ngobrol lain,” tuturnya. Tampak matanya berkaca-beling.
Aku resah mau merespon apa. Tiba-tiba saya merasa jahat alasannya menciptakan ibu mertuaku yang sudah renta hidup sendirian. Aku jadi membayangkan berada di posisinya. Pasti sangat kesepian. Air mataku mengalir tanpa mampu saya tahan.
“Aku minta maaf,” ucapku.
“Coba bayangin ibu kau yang tinggal sendirian. Apa kamu tega?”
Kami kemudian berdua terdiam, terjebak dalam dilema. Antara tidak tega dengan kondisi mertua tapi ingin hidup berdikari.
“Tiap weekend nanti kita nginep di rumah ibu, ya. Atau Ibu yang nginep di rumah kita kalau ia mau. Aku komitmen bakal sering-sering ngecek ibu kau,”
Cuma itu yang mampu saya janjikan kepada suami demi menenangkan hatinya. Barangkali juga untuk menenangkan diriku sendiri dari rasa bersalah. Rasa bersalah dan dilema ini tolong-menolong juga konsekuensi atas keputusan kami sebagai orang akil balig cukup akal. Dan mau tidak mau, kami harus siap menanggungnya. (sam)
—
Makara gimana, nih? Apakah Anda juga pernah mengalami pengalaman serupa dengan Betha? Boleh dong, diceritakan di kolom komentar. Takut namanya kebaca sama mertua? Kirim email aja! Ke: curcolsoalmertua@gmail.com

0 Response to "Dilema Meninggalkan Mertua Hidup Di Rumah Sendirian"
Post a Comment